Mau Belajar Cara Yang Benar Untuk BENAR-BENAR Menghasilkan Uang Lewat Internet??

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Ingin Men-Share artikel ini?

Bila Anda merasa artikel ini bermanfaat, anda boleh sharing artikel ini ke teman, kerabat atau saudara anda lewat facebook. Caranya mudah. Tinggal meng-klik gambar "Share on Facebook" yang ada di bagian akhir tiap artikel. Semoga bermanfaat :)
Tampilkan postingan dengan label hidup lebih bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup lebih bahagia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2009

Saya Bersyukur….

Sebuah kata yang mudah terlontar dari bibir…
Tapi…
Sudahkah kita mempraktekkannya? :)


“Hari ini sial sekali”
“Hidupku sangat menderita”
“Mengapa dia beruntung sekali, sedangkan aku…”

Demikianlah, setiap hari berbagai kalimat keluhan meluncur dari bibir kita. Lancar sekali melafalkan keluhan-keluhan itu. Bahkan kalo mau dikumpulkan bisa-bisa menjadi sebuah buku. Hahaha

Kebanyakan orang memandang hidup ini dengan kacamata negatif. Koq rasanya berat sekali hidup ini? Ada saja yang membuat kita tidak puas. Mungkin memang sifat manusia yang tidak bisa puas. Tapi apa benar tidak ada hal-hal baik dalam hidup kita ini?

Mungkinkah sebenarnya ada banyak hal-hal baik yang terjadi dalam hidup kita…hanya kita yang belum menyadarinya?

“Iya sih…memang kadang ada hal-hal baik yang aku alami, tapi kan (dan serentetan kalimat keluhan lagi-lagi meluncur dari mulut kita) “

Namanya manusia, pastilah ada kalanya kita mengalami hal baik, dan kadang mengalami hal buruk. Masalahnya, kita cuma fokus ke hal-hal negatif, sedangkan yang positif menjadi tidak bisa disadari keberadaannya. Bagaimana caranya agar kita bisa fokus ke hal-hal positif?

Kata kuncinya Bersyukur. Kalimat yang kelihatannya basi, sudah sering didengar…tapi apakah sudah benar-benar dipraktekkan? Bersyukur akan membuat kita menyadari sebenarnya ada banyak hal-hal yang membuat kita jauh lebih beruntung dibanding orang lain.

Mari kita mencoba melihat, apa saja yang bisa kita syukuri dalam hidup ini.

Saya bersyukur saya masih bisa bernafas…
(Bagaimana bila saya kehilangan nafas saya bahkan untuk beberapa detik saja)

Saya bersyukur saya memiliki anggota tubuh yang lengkap…
(Bagaimana bila saya kehilangan kaki, tangan, atau bahkan hanya satu jari saya saja)

Saya bersyukur masih bisa menikmati makanan dan minuman yang layak…
(Bagaimana bila saya berada di tempat yang dilanda kelaparan atau kekurangan air)

Saya bersyukur saya hidup di tempat yang damai…
(Bagaimana bila saya tinggal di daerah konflik dimana sewaktu-waktu saya bisa tertembus peluru, bahkan ketika saya sedang tidur)

Saya bersyukur saya memiliki tubuh yang sehat…
(Bagaimana bila saya berada di posisi orang sakit yang mau duduk pun sulit)

Saya bersyukur mendapatkan pendidikan yang layak…
(Bagaimana bila saya bahkan tidak bisa baca tulis)

Saya bersyukur memiliki tempat tinggal yang layak…
(Bagaimana bila saya harus tidur di pinggir jalan? Atau tidur beratapkan kardus?)

Saya bersyukur….

Kalau diteruskan, masih banyak daftar ”saya bersyukur” yang bisa kita tulis. Wow…ternyata kita beruntung sekali. Jauh lebih beruntung dari banyak orang di luar sana.

Bersyukur membuat kita lebih menghargai hidup. Menghargai segala sesuatu yang telah kita dapatkan dalam hidup ini.
Bersyukur membuat kita merasa lebih baik.
Bersyukur membuat kita menjalani hidup dengan lebih positif.
Bersyukur membuat lebih banyak lagi hal-hal baik terjadi dalam hidup kita.
Bersyukur membuat kita lebih bahagia :)

Sudahkah saya bersyukur? :)

Ngomong-ngomong…
Saya bersyukur memiliki penglihatan sehingga saya bisa melihat layar monitor saya
Saya bersyukur memiliki jari yang lengkap untuk mengetik artikel ini..
Dan…
Saya sangat bersyukur anda bersedia mengunjungi blog ini dan membaca tulisan saya… :)
Baca Selengkapnya...

Senin, 19 Oktober 2009

Jendela Kotor

Mungkin anda pernah dengar cerita ini?



Ada sepasang suami istri yang tinggal di sebuah apartemen. Si istri ini orangnya cerewet sekali. Suka mengeluh dan suka membicarakan kejelekan orang lain. Bertolak belakang dengan suaminya yang pendiam. Suatu hari si istri melihat ke rumah di seberang apartemen mereka.

“Pa, tetangga kita yang di seberang jorok sekali. Lihat, rumahnya kotor gitu”
“Sudah,biarkan saja. Bukan urusan kita” jawab suaminya singkat.
Tapi si istri masih sibuk mengoceh tentang rumah tetangga di seberangnya.

Demikianlah siang malam si istri terus mengoceh dan mengeluh tentang rumah tetangganya yang kotor. Tidak peduli suaminya sedang ingin berangkat kerja, ataupun saat pulang kerja dalam kondisi kelelahan, si istri tidak berhenti mengoceh. Akhirnya kesabaran suaminya habis juga.

“Mau ngomongin orang, bersihkan dulu jendelamu!!”

Si istri pun terdiam. Ia kaget suaminya yang pendiam itu bisa membentaknya. Di satu sisi ia juga heran apa maksud suaminya. Dengan perasaan heran ia menghampiri jendela apartemennya. Ups, ternyata yang kotor adalah jendelanya sendiri. Rumah tetangga oke-oke aja tuh. Ia baru ingat kalo dia jarang membersihkan jendela apartemennya, dan jadi malu sendiri.


Cerita tersebut menggambarkan kita, yang dalam hidup seringkali, sengaja atau tidak, hobi mengkritik dan membicarakan kejelekan orang lain. Sampai-sampai kita lupa introspeksi diri. Mungkin kita hanya perlu merubah kacamata kita. Terus mengeluh dan membicarakan kejelekan orang lain toh tidak membuat kita bahagia. Lebih baik berbuat sesuatu untuk perkembangan diri kita :)


Selamat menciptakan kemajuan hidup :)
Baca Selengkapnya...

Just Relax..

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan inspirasi dari kata-kata seorang pembicara. Tips yang bermanfaat bagi saya. Namun rasanya kurang bila tidak di share di blog ini. So, selamat membaca. Semoga bermanfaat.



Pernahkah anda mengalami kondisi dimana anda terjebak dalam situasi buruk yang berada di luar kendali kita? Lalu mencemaskan hal-hal yang belum terjadi? Katakanlah suatu saat kita terjebak macet saat akan berangkat kerja, lalu pikiran kita mulai dipenuhi self-talk(dialog internal) seperti: “Aduh gawat, nanti aku dimarahi bos..Aduh gawat, nanti aku terkena sanksi…Aduh gawat, nanti… dll”

Demikianlah berbagai ketakutan berputar-putar di pikiran kita. Dan tentunya kita tidak ingin hal-hal yang kita takutkan itu benar-benar diwujudkan oleh pikiran kita. Di lain sisi, kita tidak berdaya untuk men-stop pikiran-pikiran negatif tersebut. Akhirnya yang sebenarnya tidak ada apa-apa, tapi kita sudah stress oleh pikiran kita sendiri.

Lalu harus bagaimana?

Kuncinya hanya satu…

Just Relax

Setiap kali pikiran negatif tersebut “berteriak-teriak” di kepala kita, lakukan langkah berikut:

Perintahkan diri untuk rileks. Tarik nafas panjang, hembuskan perlahan. Rasakan setiap tarikan nafas membuat anda semakin rileks. Lakukan berulang kali sampai tubuh anda benar-benar rileks
Amatilah pikiran-pikiran negatif yang muncul. Cukup amati, jangan terpengaruh. Posisikan diri anda sebagai penonton/pengamat.
Katakan dalam hati bahwa itu semua tidak nyata
Ganti gambaran-gambaran negatif tersebut dengan gambaran yang positif, sambil dalam keadaan diri yang rileks.

Atau kalo tidak mau repot, cukup katakan pada diri anda untuk rileks sambil bernapas yang panjang dan dalam.


Sering kali kita menjadi cemas berlebihan terhadap berbagai hal. Padahal belum tentu kecemasan-kecemasan terebut benar-benar terjadi. Kecuali pikiran kita lah yang membuatnya benar-benar terjadi akibat kita memikirkan hal-hal buruk itu berulang-ulang. Mari kita belajar untuk menjalani hidup dengan lebih rileks.

Bagi saya pribadi, tips tersebut sangat bermanfaat. Saya termasuk orang yang suka cemas berlebihan. Dan kini saya belajar untuk lebih rileks. Dan hasilnya hidup ini terasa lebih lega dan lebih menyenangkan. Dan saya percaya, ketika kita menjalani hidup ini dengan rileks, enjoy, dan bahagia, akan ada banyak hal-hal baik yang akan terjadi pada kita. :)

Kuncinya satu:

Just Relax

Dan rasakan kedamaian yang muncul dalam diri kita



Semoga bermanfaat :)


Baca Selengkapnya...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Kebahagiaan itu bergantung pada…

Kebahagiaan itu bergantung pada...? Judul tersebut belum selesai. Lanjutannya ada di akhir artikel ini. Selamat membaca :)


Ada seorang pemuda. Pemuda ini sedang mengalami pergolakan batin. Ia ingin mencari jawaban dari pertanyaan “Apakah penyebab kebahagiaan?” . Ia pun memutuskan pergi mengembara mencari jawaban tersebut.

Kebahagiaan itu bergantung pada harta kekayaan” , kata si orang kaya. “Dengan kekayaan aku bisa membeli apapun” , tambahnya. Mendengar hal itu, si pemuda pun berusaha mengumpulkan kekayaan. Dasar dia punya bakat istimewa, dalam waktu yang singkat ia telah berhasil mengumpulkan kekayaan. Barang apapun yang dia mau semuanya mampu dia beli. Kecuali kebahagiaan. Ia masih belum menemukan kebahagiaan. Dan ia pun melanjutkan pencariannya.

Kebahagiaan itu bergantung pada kesehatan” , kata si tabib. “Lihat diriku, walaupun sudah berusia tua tapi masih sehat dan bugar begini” , tambahnya. Mendengar hal itu, si pemuda pun mulai memelihara kesehatannya. Ia memiliki tubuh yang sehat dan kuat, tapi tidak demikian dengan batinnya. Ia masih belum menemukan kebahagiaan. Dan ia pun melanjutkan pencariannya.

Kebahagiaan itu bergantung pada kekuatan” , kata si pendekar. “Aku telah melewati lebih dari seribu pertarungan, dan aku selalu menang. Tidak ada orang yang tidak bisa aku kalahkan” , tambahnya. Mendengar hal itu si pemuda mulai mempelajari berbagai ilmu beladiri. Dan benar ia menjadi tak terkalahkan. Namun ia masih belum menemukan kebahagiaan. Dan ia pun melanjutkan pencariannya.

Kebahagiaan itu bergantung pada kekuasaan” , kata seorang pejabat. “Dengan kekuasaan, semua orang tunduk padaku”, tambahnya. Dan pejabat itu merekomendasikan pemuda itu ke raja. Melihat pemuda dengan bakat istimewa dan serba bisa itu, raja langsung menyukainya dan memberi jabatan yang tinggi. Dan dengan jabatannya yang tinggi, semua orang tunduk padanya. Namuan ia masih belum menemukan kebahagiaan. Dan ia pun melanjutkan pencariannya.

Pemuda itu hampir putus asa. “Apakah kebahagiaan itu suatu hal yang mustahil didapatkan?” , demikian pikirnya. Saat hampir putus asa, dia pun bertemu dengan seseorang.

Kebahagiaan itu bergantung pada dirimu sendiri” , kata si bijaksana. “Kekayaan, kesehatan, kekuatan, kekuasaan…semuanya adalah faktor eksternal. Yang terpenting adalah faktor internal, dirimu sendiri…pikiranmu. Kamu bisa merasa bahagia kapanpun kamu ingin bahagia.” . Dan ini menjadi akhir pencarian si pemuda itu. Ia telah menemukan kebahagiaan.


Moral cerita:
- Kebahagiaan berasal dari diri kita sendiri
- Kita bisa berlatih untuk selalu merasa bahagia dalam hidup ini, apapun keadaan kita sekarang
- Kekayaan, kesehatan, kekuatan, kekuasaan mengikuti kebahagiaan…bukan sebaliknya. Dengan terlebih dulu merasa bahagia, kita akan lebih mudah mencapai hal-hal tersebut.


Dan iya, kelanjutan judul artikel ini adalah “Kebahagiaan Itu Bergantung Pada Diri Kita Sendiri” :)


Baca Selengkapnya...

Rabu, 05 Agustus 2009

Sabar! ... Sabar!

Cerita 1:
Ani adalah seorang ibu rumah tangga. Ia memiliki dua orang anak, Deva dan Devi. Dua anak kembar yang berusia 5 tahun. Saat itu Ani sedang sibuk bersih-bersih rumahnya.
Ani : “Fuhh!.. Capek sekali..Mana masih banyak lagi yang perlu diberesin”
Devi : “Mami..Mami!!”
Ani : “Iya?”

Devi : “Tadi kak Deva mukulin Devi”
Ani : “Deva..Kenapa kamu mukulin adik kamu sendiri?”
Deva : “Nggak, Mi..Devi yang duluan!”
Dev i : “Bohong! Dia yang duluan..Sakit tauk”
Deva : “Nggak..Kamu yang duluan”
Devi : “Kamu..!!”
Deva : “Kamu..!!”
Ani : “AAAAAAAGGGHHHHH!!!” “DIAM KALIAN!!!” “ @*%###@*&”


Cerita 2:
William dan Melissa sudah 1 tahun pacaran. Saat itu William sedang asik main game.
Melissa : “Honey..”
William : “iya?”
Melissa : “Aku cocok gak dengan gaya rambut kayak gini?”
William : “iya..bagus..bagus..” (menjawab ogah-ogahan)
Melissa : “Bener? Tapi kata temen aku, muka aku jadi keliatan bulat”
William : “ya..ya..” (mulai kesal karena konsentrasi maen game nya terganggu)
Melissa : “Iiih.. Koq jawabnya gak iklas gitu sih?”
William : “Pertanyaan kamu tuh gak penting banget!“ (kesal karena kalah maen game)
Melissa : “Koq kasar gitu sih!! “
William : “Ya emang gak penting koq pertanyaan kamu”
Melissa : “ @%%$#%%@ @#@$ !!!”
William : “^%&&&$@@#@#!!!”
Melissa : “ Ya udah!! KITA PUTUSS!! “


Atau mungkin anda masih ingat cerita yang ini?


Marah adalah emosi yang secara alami dimiliki manusia. Manusia biasa pasti bisa marah. Yang menjadi masalah apabila orang menjadi marah hanya gata-gara hal kecil dan frekuensi marah dalam satu hari yang semakin meningkat.

Ketika sedang marah, logika mulai kabur. Ego mengambil alih. Marah seringkali tidak menyelesaikan masalah. Yang ada, masalah yang tadinya sepele menjadi masalah besar ketika disisipkan amarah.

Kemarahan sering berakibat destruktif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kemarahan menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi fisik dan mental kita. Dan orang yang suka marah-marah pasti tidak sehat, tidak bahagia, dan tidak panjang umur.

Di dunia yang sudah sangat panas ini—baik panas karena global warming maupun ‘panas’ oleh amarah orang-orang—sebaiknya kita tidak menambahnya lagi dengan panasnya kemarahan. Cobalah belajar untuk lebih bersabar setiap kali bertemu dengan hal-hal yang membuat kesal. Belajar bersabar akan membuat kita lebih sehat, hari-hari menjadi lebih indah dan hidup lebih bahagia :)


Terkadang kita cuma butuh sedikit kesabaran ^_^



Rileks…Tarik nafas yang dalam…Hembuskan perlahan lewat mulut...Rasakan anda terbebas dari perasaan marah…Rasakan perasaan lega yang begitu nyaman :)

Baca Selengkapnya...

Rabu, 22 Juli 2009

Hari yang Cerah…Hari yang Indah…Hari yang Bahagia

Malam berganti pagi. 1 hari lagi telah berlalu. 24 jam baru telah terbentang di depan mata. Setiap manusia bangun dari istirahatnya, bersiap memulai aktivitas. Ada yang bangun dengan semangat…ada pula yang terbangun dengan wajah cemberut, kesal, bahkan marah-marah.. Eh?


Terbangun dengan cemberut, marah-marah, penuh dengan energi negatif, hanya akan membuat hari anda bertambah buruk. Dalam teori Law of Attraction, semakin kita memikirkan hal-hal negatif, semakin banyak pula hal negatif yang akan ditarik pikiran kita , semakin banyak pula hal menyebalkan yang terjadi. Jadi, mulailah hari kita dengan penuh energi positif. :)

Beberapa tips untuk menciptakan hari yang cerah…hari yang indah…hari yang bahagia :)


Sleep Well..Sleep Tight
Kurang tidur akan menyebabkan kita bangun dengan lesu, mengantuk dan ingin marah-marah. Sebaliknya, tidur yang cukup akan membuat kita terbangun dengan segar dan penuh energi. Dan yang penting adalah tidur yang berkualitas,dimana tubuh benar-benar beristirahat dengan maksimal. Misalnya dengan melakukan relaksasi sebelum tidur


Feel the Fresh Air
Buka jendela. Rasakan udara pagi yang segar memenuhi paru-paru anda. Sensasi yang menyegarkan yang membuat anda jadi lebih berenergi.


Smile to the World :)
Bangunlah dengan senyuman. Senyuman yang akan mencerahkan hari-hari anda. Yakinlah bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Yakinlah bahwa akan banyak hal-hal baik yang terjadi pada anda hari ini. P.S: sebuah senyuman kecil bisa mengurangi stress, membuat kita lebih sehat dan lebih bahagia :)


The Power of Word
Mulailah hari-hari anda dengan kata-kata positif. Baik itu doa (sesuai keyakinan masing-masing), afirmasi/ kata-kata positif, atau kata-kata yang bisa memotivasi anda. Kata-kata positif tersebut akan menyuntikkan energi ekstra untuk memulai hari anda.


Music Make Our World Colorful
Musik membuat hidup kita lebih berwarna. Dengarkan musik kesukaan anda. Ciptakan mood yang positif :)


A Little Exercise?
Berolahraga ringan juga bisa jadi pilihan. Selain membuat kita bahagia, juga membuat tubuh kita lebih sehat. Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang bahagia..hahaha :)


Ada yang ingin menambahkan tips-tips menarik lainnya? :)


Setiap orang dihadapkan dengan 24 jam baru di depannya. Bagaimana kita ingin mengisi waktuj 24 jam tersebut tergantung pilihan kita. Ingin membuat hari anda negatif dan menyebalkan, atau menciptakan hari yang cerah…hari yang indah…hari yang bahagia? Andalah yang memilih :)



Have a nice day…Have a wonderful day.. ^_^


ditulis dengan penuh energi positif



Baca Selengkapnya...

Rabu, 15 Juli 2009

Melangkah Menuju Cahaya

Hujan turun deras di suatu senja. Seorang pria berusia setengah abad berbadan tegap duduk terpaku menatap tetes-tetes hujan yang mengetuk jendela apartemennya. Di luar sana awan gelap membentang di langit, segelap suasana hati pria tua itu. Kegelapan yang telah menyelimutinya selama ini.


Pikirannya menerawang, menjelajahi dimensi-dimensi waktu. Terbayang masa kecilnya yang berat. Adalah Jay Abrahm yang terlahir dalam keluarga yang hidup pas-pasan, tinmggal di rumah bobrok yang setiap hari melantunkan musik pertengkaran rumah tangga. Sejauh mata memandang, hanya terlihat sudut-sudut kumuh yang terbentang di salah satu sisi di pinggiran kota. Jay menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang sangat keras.

Beranjak remaja, Jay melakoni hidup yang penuh baku hantam. Street fight telah menjadi makanannya. Hari-harinya diwarnai cipratan darah, suara tulang patah, dan teriakan kesakitan. “Bertarung untuk bertahan hidup” demikian semboyannya. Jay mempelajari berbagai jenis beladiri yang dikombinasikan dengan tehnik bertarung jalanan nya sehingga memenangkan hampir setiap pertarungan. Namanya mulai terkenal di lingkungan itu dan ia mulai disegani.

Nama Jay terdengar sampai telinga seorang Manager profesional yang telah memanageri banyak petarung-petarung ternama. Di usia 20-an, Jay mulai memasuki dunia pertarungan profesional. Mengantongi lima sabuk hitam dari lima aliran beladiri serta pengalaman dalam ratusan pertarungan jalanan, Jay tidak sulit melibas lawan-lawannya. Namanya pun meroket dengan cepat. Honornya pun semakin melejit.

Ketenaran Jay bagaikan magnet yang menarik berbagai tawaran iklan. Belum lagi T-shirt berlogo dirinya serta berbagai merchandise lainnya. Bahkan dirinya sering muncul di iklan “Reg (spasi) FIGHT” di televisi. Intinya, sekarang Jay menjadi seorang yang kaya raya. Kemudian ia menikah dan mempunyai seorang putra. Lengkaplah sudah kebahagiaan Jay.

Suatu hari, Jay sedang mengendarai mobil bersama istri dan anaknya. Bahagia rasanya. Sudah lama mereka tidak jalan-jalan bersama karena kesibukan Jay. Di tengah kebahagiaan itu, tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mobil mewah Jay. Segerombolan anak muda yang menyetir ugal-ugalan. Kaca spion nya patah.

Ego nya sebagai seorang petarung terbakar. Adrenalin memuncak. Kata-kata istrinya yang menyuruhnya mengalah tidak dihiraukan. Ia bersumpah akan menghancurkan penabrak itu.

Setelah kejar-kejaran beberapa saat, Jay berhasil menyalib mobil penabrak itu. Perkelahian pun tidak terelakkan. Satu per satu pemuda-pemuda berandal itu tumbang. Salah satu pemuda mencabut pistol. Dengan tehnik gun disarm nya, Jay berusaha merebut pistol. “Dor!” Suara letusan pistol diiringi pekik tangis istri Jay. Peluru menembus kaca mobil dan merenggut nyawa satu-satunya putra kesayangan mereka. Enam bulan kemudian,istrinya yang depresi pun bunuh diri. Hilang sudah kebahagiaan Jay.

20 tahun telah berlalu sejak hari itu. Memang karir Jay sebagai petarung profesional tetap cemerlang. Bahkan di hari-hari pensiunnya, Jay telah menjalankan beberapa usaha.
Walaupun demikian, sejak hari itu, Jay tidak lagi mengenal kata bahagia dalam hidupnya. Semua harta itu terasa hambar. Ia selalu dilingkupi kegelapan pekat.

“Seandainya aku bisa menahan ego ku”
“Seandainya aku menuruti saran istriku”
“Seandainya aku bisa merelakan kaca spionku…Bahkan aku bisa membeli 10 mobil seperti itu”
“Seandainya waktu bisa diputar kembali”
“Seandainya malam itu aku tidak lewat sana”
“Seandainya nyawaku bisa ditukar dengan nyawa anakku”
Serentetan kata negatif terus membombardir pikirannya. Menciptakan selubung gelap yang mengikatnya. Bayangan hitam yang telah menghantuinya selama 20 tahun.

Kembali ke masa kini, Jay masih duduk diam, larut dalam pikirannya.
“Tidak, aku tidak boleh begini terus. Cukup sudah penyesalanku. Menyalahkan diri sendiri tidak akan menghidupkan kembali anak dan istriku. Sebagai orang biasa wajar aku berbuat salah.Yang penting sekarang aku berani meninggalkan jejak yang lama. Membuka lembaran baru. Melangkah menuju cahaya. Sekarang saatnya aku memaafkan diriku. Aku memaafkan diriku dengan sepenuh hati. Aku…memaafkan diriku…dengan sepenuh hati. “

Entah dari mana, tiba-tiba Jay mendapat sebuah ilham cemerlang. Gagasan yang menghancurkan segala kegelapan yang telah menyelimutinya selama 20 tahun. Beberapa waktu kemudian, Jay menyisihkan sebagian kekayaannya membangun yayasan sosial untuk anak yatim piatu. Yayasan itu sekarang telah memiliki cabang di berbagai negara.

Cerita tersebut adalah cerita fiktif. Namun dalam hidup ini, kita sering menyalahkan dan menghukum diri sendiri atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Hidup adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk terbenam dalam rasa bersalah seumur hidup, atau belajar memaafkan diri sendiri. Ketika anda bisa belajar memaafkan diri sendiri, rasanya akan begitu lega…dan bahagia :)


“Sebagai orang biasa wajar aku berbuat salah. Yang penting sekarang aku berani meninggalkan jejak yang lama. Membuka lembaran baru. Melangkah menuju cahaya”
Baca Selengkapnya...

Sabtu, 04 Juli 2009

Hey…Kau Salah! Aku yang Benar!!

Skenario:

Ada dua orang anak SMA. Badoe dan Boedi namanya. Keduanya adalah sahabat karib. Mereka telah berteman sejak SD. Suatu hari ada seorang cewek yang lewat di depan mereka.


Badoe : Eh, bro… Tuh cewek boleh juga. Seksi amat.
Boedi : Mana? Mana?
Badoe : Itu tuh..Yang itu
Boedi : Yee..Katarak kali loe.. Itu sih bukan seksi tapi gendut.
Badoe : Sembarang! Dimana-mana kalo cowok liat cewek kayak gitu pasti bilangnya
Seksi. Aneh loe.
Boedi : Ah..Nggak!! Jelas-jelas gendut gitu kok.
Badoe : Selera loe aneh deh. Jangan-jangan loe gak normal!
Boedi : Eh..Jangan sembarang ngomong ya! Jaga tuh mulut!!
Badoe : Koq nyolot sih!!
Boedi : @ * % % # & %$#(censored :p )
Badoe : * %%% !!! $%@# (censored :p )

Emosi kedua orang itu sudah memuncak. Adu mulut berlanjut ke konfrontasi fisik. Badoe yang jago Aikido bertarung sengit dengan Boedi sang pendekar Wushu. Dalam satu kesempatan, Badoe berhasil membanting Boedi. Tidak mau kalah, Boedi merebut sapu dari tangan mas Poer, tukang bersih-bersih sekolah. Sapu itu dipatahkan ujungnya dan dijadikan senjata toya. Pada sabetan ke-5, Boedi berhasil memukul kepala Badoe.

Badoe tumbang, terkapar tidak sadarkan diri. Darah berceceran. Terdengar sirine mobil polisi dan ambulance yang saling bersahut-sahutan. Badoe masuk ICU karena mengalami gegar otak ringan. Boedi dituntut orang tua Badoe dan akhirnya dipenjara. Dan kedua-dua nya dikeluarkan dari sekolah. Ending yang mengenaskan :)



Anda yang membaca mungkin akan geleng-geleng kepala. Konyol. Dua orang telah rusak masa depannya hanya karena meributkan hal yang tidak penting. Masalah seksi-tidak seksi itu kembali pada selera masing-masing kan. Dari zaman purba sampai zaman digital, yang namanya selera orang itu ya gak mungkin semuanya sama – dan memang tidak harus sama :)

Contoh fiktif di atas tidak jarang terjadi di kehidupan nyata. Bahkan lebih parah. Lihat di berita-berita kriminal. Berapa orang yang tega melenyapkan nyawa orang lain hanya karena perbedaan pendapat yang sepele. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan.

Apa sih penyebabnya? Semuanya hanya kerena “Kau Salah! Aku yang Benar!!” kan. Semuanya merasa yang paling benar, semuanya ingin orang lain mengikuti kata-katanya. Dan jujur, saya sendiri pun tidak jarang seperti itu.

Toleransi. Kata yang mudah diucapkan tapi tidak banyak yang mempraktekkan. Ketika kita berhenti berpikir “Kau Salah! Aku yang Benar!!” , digantikan dengan “Benar Untukku, Belum Tentu Benar Untuknya“ , kita bisa lebih toleran terhadap perbedaan pendapat. Kita akan belajar untuk melihat dari kacamata / sudut pandang orang lain. Dengan demikian, banyak kasus ribut “gak penting” yang bisa dihindari. Dan kita akan hidup lebih bahagia :)

Bagaimana pendapat anda ? :)

Baca Selengkapnya...

Rabu, 13 Mei 2009

Truk Sampah Tidak Pernah Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja membaca sebuah cerita yang menarik. Cerita ini, walaupun sederhana, bisa memberikan pelajaran yang berharga untuk kita agar hidup lebih bahagia. Selamat membaca dan jangan lagi anda menjadi truk sampah :)

“Suatu hari, ada seorang pemuda yang baru turun dari pesawat. Kemudian dia naik di salah satu taksi yang ada di bandara itu. Hari yang melelahkan, pikirnya. Mereka mengobrol sebentar. Sopir taksi itu cukup ramah.

Ketika taksi baru saja berjalan keluar dari bandara, tiba-tiba muncul sebuah sedan hitam. Mobil hitam ini bermaksud untuk menyalib taksi tersebut. Ciiiiitttt!!!!!!! Sopir taksi segera menginjak rem. Hening.

Taksi berhenti tepat 1 inchi dari mobil hitam tersebut. Penumpang nya bernapas lega. Tiba-tiba pengendara mobil hitam menurunkan kaca mobilnya. Lalu ia berteriak dan marah-marah terhadap sopir taksi tersebut.

Si penumpang pun ikut naik darah. “Orang ini, sudah salah, marah-marah pula” pikirnya. Anehnya, sopir taksi bereaksi dengan tidak lazim. Ia hanya tersenyum dan melambai kepada pengemudi ugal-ugalan tersebut. Mobil hitam itu lalu berlalu. Si penumpang pun heran. Ia bertanya kepada sopir taksi.

“Pak, kenapa anda tidak balas marah? Malah tersenyum? “
“Saya tidak mau jadi truk sampah, mas. ”
“Truk sampah? “
“Iya. Sadar atau tidak, banyak orang yang sedang menjadi truk sampah. Mereka membawa sampah ke mana-mana. Dan ketika sampahnya penuh, mereka butuh tempat untuk menurunkan sampahnya.”
“Maksudnya pak?”
“Orang-orang selalu membawa sampahnya ke mana-mana. Rasa frustasi, kemarahan, kekecewaan. Perasaan-perasaan negatif yang tidak bermanfaat.Dan ketika bak sampahnya penuh dan sesak, mereka butuh tempat untuk menumpahkan sampahnya.”
Penumpang mengangguk, mulai mengerti maksud sopir tersebut.
“Dan saya tidak mau memungut kembali sampah orang tadi. Saya bukan truk sampah” ,kata pak sopir sambil memamerkan senyumnya.

Nah,sekian ceritanya. Disadari atau tidak, kita sering pula menjadi truk sampah. Kita membawa sampah kita yang berbau busuk ke mana-mana. Ketika sampah itu penuh, kita langsung membuangnya (baca: melampiaskan) ke orang lain.

Di zaman sekarang, tingkat stress masyarakat semakin tinggi. Sampahnya semakin penuh. Hal-hal kecil bisa menyulut mereka untuk menumpahkan sampahnya. Cara menumpahkan sampahnya pun bermacam-macam, dari cara yang menyebalkan sampai cara yang fatal. Lihat saja ketika jalanan sedang macet, ketika serempetan kendaraan atau saat adu mulut karena hal-hal sepele.
So, berhentilah jadi truk sampah. Truk sampah tidak pernah bahagia. Dan tidak pernah menemukan solusi sukses nya. Berhenti memungut kembali(baca : ikut bereaksi negatif) sampah orang lain. Dunia ini akan terlihat lebih indah. Jadikan hidup anda lebih lega dan bahagia :)

Baca Selengkapnya...